"Kekayaan itu penting tapi sehat jauh lebih penting"

Rabu, 24 September 2014

Caring Perawat
1. Pengertian caring Perawat
Caring merupakan pengetahuan manusia, inti dari praktik
keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal (Marriner dan Tomey dalam
Dwidiyanti, 2007).
Caring bukan semata-mata perilaku, caring adalah cara yang
memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring ini juga diartikan
sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan
memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan
klien (Carruth, at all dalam Dwidiyanti, 2007).
Dyidiyanti (2007) selanjutnya menyatakan bahwa caring
merupakan manifestasi dari perhatian kepada orang lain, berpusat pada
orang, menghormati harga diri dan kemanusiaan, komitmen untuk
mencegah terjadinya suatu yang memburuk, memberi perhatian dan
konsen, menghormati kepada orang lain dan kehidupan manusia, cinta dan
ikatan, otoritas dan keberadaan, selalu bersama, empati, pengetahuan,
penghargaan dan menyenangkan.
Morrison dan Burnard (2009) menggambarkan caring sebagai
suatu proses yang memberikan kesempatan kepada seseorang (baik
pemberi asuhan (carrer) maupun penerima asuhan) untuk pertumbuhan
pribadi, yang didukung dengan aspek-aspek pengetahuan, penggantian
irama, kesabaran, kejujuran, rasa percaya, kerendahan hati, harapan dan
keberanian.
Watson dalam Dwidiyanti (2007) menyebutkan terdapat tujuh
asumsi yang mendasari konsep caring, yaitu :
a. Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktikkan secara
interpersonal
7
b. Caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam
membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien.
c. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya
saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang
tersebut nantinya.
d. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung
perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih
tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
e. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan
antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku
manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan
membantu klien yang sakit.
f. Caring merupakan inti dari keperawatan.
2. Perilaku caring
Perilaku caring (caring act) adalah suatu tindakan yang dilakukan
dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh (Dwidiyanti,
2007). Tindakan dalam bentuk perilaku caring seharusnya diajarkan pada
manusia mulai sejak lahir, masa perkembangan, masa pertumbuhan
sampai di kala meninggal.
Perilaku caring adalah esensi dari keperawatan yang membedakan
dengan profesi lain dan mendominasi serta mempersatukan tindakantindakan
keperawatan. Caring dalam keperawatan adalah fenomena
transkultural dimana perawat berinteraksi dengan klien, staf dan kelompok
lain. Perilaku caring bertujuan dan berfungsi membangun struktur sosial,
pandangan dan nilai kultur setiap orang yang berbeda pada satu tempat
dengan tempat lain (Dwidiyanti, 2007).
Sebagai ilmu yang merupakan cabang dari filsafat bersifat praktis,
normatif dab fungsional sehingga berguna dalam hidup sehari-hari.
Kemampuan caring memiliki nilai-nilai perawatan yang mengubah
perawat dari keadaan, dimana perawat dianggap sebagai sekedar pekerjaan
8
menjadi profesi yang lebih terhormat. Kemampuan caring tidak hanya
berkisar pada mempraktikkan seni perawatan, memberi kasih sayang
untuk meringankan penderitaan pasien dan keluarganya, meningkatkan
kesehatan dan martabat tetapijuga memperluas aktualisasi perawat .
Seorang perawat mendatangi pasien yang memanggil melalui bell
yang ditekan pasien, dengan hati yang tidak menentu dia datangi pasien,
karena memang kalaujujur dia sedang merasa sangat capai, dalam waktu
yang sama ada pasien harus dimonitor'terus menerus karena kesadaran
yang menurun, karena di ruangan VIP dia harus usir rasa capai dengan
mencoba menolong pasien yang memanggilnya.
Seorang ibu dengan ekspresi yang ragu-ragu minta tolong ingin
memenuhi kebutultan eliminasi, tiba-tiba perawat bertanya dalam hati,
kenapa ibu kelibatan ragu-ragu terhadap saya?. Situasi ini membuat
perawat penasaran dan mencoba menolong dengan semangat dan senang
hati menolong ibu tersebut dengan tekad babwa pasien ini tidak baleh
ragu-ragu terhadap saya sebagai perawat. Dengan prosedur yang baik
perawat coba lakukan dengan yakin dan mantap dan tidak lupa menatap
ibu tersebut dengan tersenyum yang tulus, untuk mencoba meyakinkan
bahwa perawat siap menolong ibu setiap saat.
3. Indikator caring
Dalam membangun pribadi caring perawat dapat melalui
pengembangan indikator 10 caratif caring (Waston dalam Kaltara, 2009)
sebagai berikut
a. Sistem nilai humanistik-altruistik
Humanistik-altruistik dibangun dari pengalaman, belajar dan
upaya-upaya mengembangkan sikap humanis. Proses tumbuh kembang
manusia akan berpengaruh dalam mengembangkan jiwa altruistik dan
humanis ini. Biasanya proses tersebut merupakan hasil dari saling
mempengaruhi baik dari lingkungan sosial maupun orang tua
Pengembangan faktor ini dapat dimulai sejak dalam masa pendidikan.
9
b. Kepercayaan-harapan
Perawat menggunakan kekuatan sugestif secara positif untuk
memberikan dukungan pada pasien untuk yakin akan mendapat
kesembuhan. Hal ini harus diawali dari keyakinan dalam diri perawat
sendiri bahwa dengan sentuhannya pasien akan dapat kesembuhan.
Pengalaman dalam pelayanan memberikan kekuatan bahwa peran
perawat merupakan variabel penting dalam pemberi kepuasan dan
kesembuhan.
c. Sensitif terhadap diri sendiri dan orang lain
Ditumbuhkan dengan cara megembangkan perasaan diri,
merasakan emosi, meningkatkan sensitivitas dalam berinteraksi dengan
orang lain. Dalam hal ini perawat dituntut mengembangkan sensitivitas
terhadap klien.
d. Pertolongan-Hubungan saling percaya.
Untuk mendapat hubungan saling percaya dengan pasien,
seorang perawat harus mempunyai kemampuan berkomunikasi
terapeutik yang baik. Perawat harus bisa membedakan komunikasi dan
komunikasi terapeutik.
e. Pengembangan dan penerimaan terhadap ekspresi perasaan positif dan
negatif.
Ekspresi yang benar atau sesuai menunjukkan bahwa seseorang
berada pada tingkat kesadaran tertentu.
f. Penggunaan metode ilmiah, problem solving dalam pengambilan
keputusan.
Diperoleh melalui riset yang berkesinambungan, pemberian arti
terhadap ilmu dan peningkatan pengetahuan.
g. Peningkatan proses belajar-mengajar dalam interpersonal
Fokusnya adalah proses belajar mengajar untuk meningkatkan
pemahaman dengan memperoleh informasi dan alternatif pemecahan
masalah. Secara personal perawat harus siap untuk menerima
10
pengetahuan (ilmu) baru dalam keperaawatan dengan caa
meningkatkan pedidikan formal dan non formal.
h. Supportif, korektif dan protektif terhadap mental, fisik, sosiokultural
dan spiritual.
Variabel eksternal dari faktor ini adalah fisik, keamanan,
keselamatan dan lingkungan. Variabel internal meliputi mental,
spiritual dan aktivitas cultural. Perawat harus mampu memberikan
support, proteksi dan koreksi terhadap variable tersebut.
i. Membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar
manusia menurut Watson terdiri dari :
1) Survival needs (biophisycal needs)
2) Fungsional needs (Psychophisical needs)
3) Integratif needs (Psychososial needs)
4) Growth-seeking needs (intrapersonal-interpersonal needs)
j. Dikembangkan faktor eksternal phenomenological
Yaitu studi tentang keberadaan manusia dengan menggunakan analisis
phenomenological. Bagi perawat faktor ini membantu menerima dan
menengahi ketidaksesuaian pandangan seseorang secara holistic ketika
saat yang bersamaan ditugaskan memenuhi kebutuhan secara
hirarkikal. Gabungan dari faktor ini adalah ilmu keperawatan yang
membantu perawat memahami pengertian seseorang dalam
menemukan hidupnya dan memahami seseorang dalam mengartikan
setiap kejadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar